Setelah melalui serangkaian perjalanan dan bersilaturrahmi dengan teman-teman di Surabaya dan paginya saya menyempatkan diri membalas respon email teman-teman milist www.brebes.net atas wacana TDA Pantura (kang Suherman milist Brebes dan mas P. Subagyo orang Brebes yang sedang di Qatar membawahi 2 restoran besar sebagai Chief de Cuisine Biella Italian Restorante Doha State of Qatar).
Akhirnya sampai juga saya di kota Malang, tempat saya menghabiskan masa kuliah sebagai aktivis mahasiswa dan kota dimana dipertemukannya saya dengan istri saya. Setiba di Malang saya langsung mengirim SMS buat teman-teman di Malang, dari mulai teman-teman alumni semasa kuliah dulu sampai teman-teman milist TDA (cak Ambay, cak Sinan TDA Joglosemar yang kebetulan lagi pulang kampung di Malang) dan teman-teman lintas milist (cak Moch Slamet dan cak Yopie), sebenarnya saya hanya berniat hadir untuk silaturrahmi diacara lintas milist tersebut, namun dengan gaya seperti TDA, saya ditodong untuk mengisi acara tersebut, padahal saya bukanlah speaker yang baik.
Sudah beberapakali saya melewati daerah yang terkena bencana lumpur Lapindo Sidoarjo, namun sebagai orang kecil saya tidak bisa berbuat banyak, selain hanya bisa berdoa mudah-mudahan pemerintah segera menuntaskan masalah tersebut. Ketika saya berada diantara puing-puing pinggiran lumpur Lapindo, terasa sekali hawa panas yang sempat memanaskan fisik dan jiwa ini.
Lumpur Lapindo menjadi semacam kekuatan pengusaha yang usahanya sedang terkena musibah dan sedang diuji olehNya seberapa besar tingkat kepeduliannya terhadap masyarakat yang terkena musibah dan seberapa besar jiwa dan hati nurani sang pengusaha tersebut terketuk ikut menyelesaikan masalah tersebut. Saya tidak akan mengulas panjang karena berita-berita di media-media lebih akurat.
Namun dari pengalaman perjalanan ini, saya berinteraksi dengan banyak kenyataan yang terjadi dan berinteraksi dengan berbagai bentuk macam persepsi dan karakter manusia. Ya selama dalam perjalanan saya mengalami interaksi kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar, baik ketidak disiplinan di jalan raya, lihat polisi yang sedang memeriksa pengendara, lihat kecelakaan, lihat pengemis dimana-mana, lihat kenyataan pahit lumpur Lapindo Sidoarjo, dan melihat berbagai macam kenyataan pahit dan menyenangkan yang langsung mempengaruhi pikiran dan perasaan saya.
Bagai perjalanan Sun Gokong yang selalu berhadapan dengan berbagai macam karakter manusia, saya juga berhadapan dan berinteraksi dengan berbagai macam karakter orang, dari mulai orang yang berbeda bangsanya, yang berbeda keyakinannya, yang berbeda persepsinya, yang berbeda perilakunya, yang semuanya juga secara langsung dan tidak langsung masuk kedalam pikiran dan perasaan saya.
Yah saya sedang berhadapan dengan realitas kehidupan yang berbeda-beda, yang akhirnya dalam berinteraksi dengan berbagai macam perbedaan tersebut satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah saya mengunakan bahasa general, yaitu bahasa hati, bahasa cinta kasih dan bahasa kasih sayang.
Untuk itu dari berbagai pengalaman perjalanan ini yang sudah saya lalui selama hampir 9 tahun, saya berharap sekali di milist ini terus didengungkan bahasa persatuan (bahasa rahmat), yaitu menebarkan rahmat dengan bahasa kasih sayang dan cinta kasih, sebisa mungkin hindarilah berdebat mempertahankan persepsi, memaksakan keyakinan masing-masing dan merasa yang paling benar.
Teman-teman, realitas kehidupan dilapangan begitu memperihatinkan !!!, bersyukurlah anda yang sudah naik mobil ber AC, bersyukurlah anda yang sudah tidur diruangan ber AC, bersykurlah dengan segenap pemberianNya, bersyukurlah dan tebarkanlah rahmat dengan bahasa kasih sayang dan cinta kasih, tidak perduli sebesar dan sekecil apapun nilai materinya dimata manusia.
(Sudah Di Gajah Mada Plaza Malang)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar