01 Oktober 2007

Saya Yang Mantan Pedagang Kaki Lima Bertemu Dengan Chang Shu Hua di Kediri


Saya benar-benar menikmati perjalanan sebagai Duta TDA, dan Alhamdulillah perjalanan sudah sampai di Kediri, walaupun di Kediri saya tidak bertemu dengan member TDA, karena yang bersangkutan sedang tidak dirumah dan alasan lainnya yaitu keterbatasan waktu.Namun Alhamdulillah, dalam perjalanan di Kediri saya bisa berbagi hal lain yang lebih mengasyikkan tentang pengalaman saya sebagai pedagang kaki lima di alun-alun kota Pare Kediri dan pertemuan saya dengan Chang Shu Hua.Ya, saya pernah menjadi pedagang kali lima di alun-alun kota Pare Kediri hampir setahun lamanya, waktu itu saya masih ingat setelah lulus kuliah saya ingin kursus bahasa Inggris di kota Pare Kediri yang terkenal sebagai "kampung Inggris". Karena saya sudah malu minta biaya sama orang tua akhirnya saya membiayai kursus bahasa Inggris dengan cara menjadi pedagagang kaki lima di alun-alun kota Pare Kediri. Barang yang saya jual adalah lukisan kaca, yang melukis adalah teman saya yang menjadi pedagang kaki lima juga di kota Jombang. Nah pengalaman menjadi pedagang kaki lima merupakan cikal-bakal kemampuan saya dalam mengasah ilmu penjualan dan waktu itu saya hampir membeli sebuah toko, namun gagal karena saya keburu pindah ke Jakarta.


Koh Adib....., ya beberapa orang memanggil saya dengan sebutan koh...., termasuk petemuan saya dengan encik Chang Shu Hua yang memanggil saya dengan sebutan koh......, beliau adalah owner Murni Fashion Kediri dan sebagai agen property Hayam Wuruk Trade Center Kediri dan Panglima Sudirman Trade Center Tulung Agung. Dan yang tak disangka ternyata beliau adalah teman seorang owner perusahaan entertaint terkenal tempat saya dulu bekerja di Jakarta. Akhirnya obrolanpun berjalan begitu akrabnya sampai menjelang sore, ternyata beliau menerapkan juga ilmu 2 M yaitu memberi dan melayani. Dan mengenai panggilan koh, alhamdulillah saya tidak merasa keberatan, karena dulu nenek buyut saya adalah warga "keturunan" yang asimilasi menikah dengan kakek buyut saya yang asli dari Jawa. Berbagai macam sebutan panggilan entah itu mas, kokoh, cak, gus, kawan, dan kang bagi saya yang penting adalah nilai esensi panggilannya yaitu membuat lebih akrab dan meyakinkan saya bahwa perbedaan-perbedaan tidak akan ada jika kita mampu menggunakan bahasa rahmat, yaitu bahasa cinta kasih dan bahasa kasih sayang, seperti yang diamalkan oleh teman saya yang enerjik Chang Shu Hua.


(Dini Hari Di Hotel Sanashtri Solo)

0 komentar: